Selasa, 01 April 2014

Breaking bad leadership habits

We have known for a long time that leaders need to continue to learn throughout their careers (Simple Present Tense). About 50 years ago, US President John F. Kennedy argued that (Simple Past Tense) “leadership and learning are indispensable to each other”. And about 40 years ago, Alvin Toffler became famous by saying that tomorrow’s illiterate will not be the one who can’t read (Future Continuous Tense); he or she will be the one who has not learned how to learn (Past Perfect Tense).

This has become ever truer in the VUCA world (Present Perfect Tense). This Volatile, Uncertain, Complex and Ambiguous environment, characterized by an ever increasing rate of knowledge creation and change, increasingly demanding investors, employees, publics and regulators who keep presenting leaders with new challenges that require new types of responses. In that world, “what got (leaders) here may not get them there”, as Marshall Goldsmith put it a few years ago. In fact, increasingly, what got them here may not even help them stay here. So it is absolutely necessary for leaders to continue to develop new responses and capabilities.

Mastering the cycle


Despite being armed with greater access to knowledge and training than ever before (Simple Past Tense), executives still need to be able to integrate that knowledge into their behavior back at work (Simple Present Tense). To do so, they must go through three major steps (Simple Present Tense).

First, one must identify a need for improvement. When we feel satisfied with our performance in a particular area (Simple Past Tense), we don’t devote time and energy to improving it. The first step is hence to move from Unconscious Incompetence to Conscious Incompetence.

Most of us have been here before. When learning to ride a bike, this was the part where we took off our training wheels and realized we couldn’t balance. We then have to master staying up straight, which moves us from Conscious Incompetence to Conscious Competence. This requires a tremendous amount of attention, practice and persistence, especially when you fall off.

When practice makes perfect, you move from Conscious Competence to Unconscious Competence, “just like riding a bike”. Once you know it, you will always be able to do it without thinking.

The four obstacles to change

So how do we overcome these habits? First, let’s examine the obstacles. Over the last twenty five years I have spent more than one hundred days per year researching, consulting, coaching, teaching or facilitating meetings for executives (Simple Present Tense), which has led me to identify four major obstacles (Present Perfect Tense).

1. The knowing-doing gap

Knowing something doesn’t guarantee that one can implement it. In fact, sometimes, quite the opposite!  Knowing the words (Simple Present Tense) and having understood the concept can lead executives to think that they’re already implementing (Present Perfect Tense) it.  If they did not know or understand the concept they would devote more attention to it, but when they understand it and the whole thing makes a great deal of sense, it seems that “the box is ticked” – at least until the individual gets strong feedback that his or her behavior actually does not measure up.

2. Insufficient investment

Too often, today’s senior executives underestimate how much effort is required for them to learn new leadership knowledge in a way that will be helpful in practice. They are too quickly satisfied with a vague understanding of the principle (Simple Past Tense) and as a result they often under-invest in developing a more granular understanding of the concept and in ensuring that they remember this additional granularity clearly enough. To develop mastery of the practice, you must first develop mastery of the knowledge (Simple Present Tense).
3. Implementation difficulties lead to insufficient persistence

If we want to behave differently from the habitual response and more consistently with our new objective, we need to a) intercept the habitual response before it is produced b) search our mind to identify a more appropriate response, and c) produce that more appropriate response.

These three steps require significant time and attention(Simple Present Tense), two commodities that senior executives tend to have in short supply. They also require self-control, which recent research has shown functions a little bit like a muscle (Present Perfect Tense): Exercising it makes it stronger in time, but weaker in the short run (Simple Present Tense).

4. Insufficient support from their ecosystem

When executives do manage to become conscious of their shortcomings and to invest enough time and energy to develop and practice new behaviors, they are often tripped up by their environment. The first disappointment occurs when executives fail to receive positive reinforcement on their efforts (Simple Present Tense). More problematic is that some members of executives’ ecosystem may be unwilling and/or unable to change the way they interact with the executives. For example, an executive working harder at delegation is going to need subordinates and peers who are able to step up their contribution, which may be less comfortable for some of these individuals than complaining about the executive’s lack of delegation.

Overcoming the obstacles

Most individuals will face more than one of these obstacles (Simple Present Tense), which makes it hard to specify a set of enabling conditions that will apply equally well to all executives who wish to continue to develop their skills over time. However, with focus, mindfulness, reflectiveness and persistence, these four pillars can help executives to develop their leadership skills throughout their career.

Sumber : http://www.thejakartapost.com/news/2014/03/29/breaking-bad-leadership-habits.html

Minggu, 29 Desember 2013

Harga Emas Naik Tipis

CHICAGO, KOMPAS.com - Harga emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik di tengah perdagangan yang tipis, Jumat (27/12/2013) siang waktu setempat.

Sepanjang pekan ini, kenaikan harga emas tercatat 0,9 persen. Kontrak emas untuk pengiriman Februari 2014, Jumat, naik 1,7 dollar AS atau 0,14 persen menjadi 1.214 dollar AS per troy ounce.

Hari-hari ini, harga emas berfluktuasi dalam rentang yang tipis. Permintaan investor terhadap emas mulai berkurang seiring membaiknya perekonomian.

Sebaliknya, permintaan dari konsumen masih terus terjadi di tengah harga emas yang sempat turun secara terus-menerus dalam beberapa waktu.

Para analis mengaku tak dapat memperkirakan prospek harga emas pada 2014. Kondisi ini dipicu rencana Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) mulai mengurangi kucuran stimulus per 1 Januari 2014.

Namun, sebagian analis menyebut harga emas diperkirakan bisa melorot sampai ke level di bawah 1.100 dollar AS per troy ounce, pada Januari 2014.

Bursa Amerika yang kembali bergairah (bullish), juga dinilai punya kontribusi pada pelemahan harga emas. Bergairahnya bursa mengangkat harapan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan berlanjut dengan normalisasi suku bunga.

Kenaikan harga juga terjadi pada perak dalam perdagangan akhir pekan. Perak untuk pengiriman Maret 2014 dihargai naik 13,3 sen atau 0,67 persen menjadi 20,049 dollar AS per troy ounce.

Demikian pula untuk platina, pengiriman April 2014 dipatok dengan harga 1.378,9 dollar AS per troy ounce. Harga ini naik 15,1 dollar AS atau 1,11 persen dari harga sebelumnya.

Sumber:

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/12/28/0729486/Harga.Emas.Naik.Tipis

Analisis:

Lakukan langkah terbaik untuk kebagaiaan semua rakyat . Bukan hanya untuk kebagaiaan pemerintah atau orang- orang besar saja .

Daging Mahal, Ini Alternatif Dahlan untuk Bahan Baku Bakso


JAKARTA, KOMPAS.com -
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan ingin belajar membuat bakso memakai daging beku. Pasalnya daging yang banyak digelontorkan kepada para pedagang bakso menggunakan daging beku harganya lebih murah daripada daging impor.

Dahlan pun meminta kepada Ketua Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso (APMISO) untuk mengajarkan cara mengolah daging sapi impor yang beku. Selama ini Dahlan menilai daging bakso yang ia makan, bukan berasal dari daging sapi impor.
"Saya ingin belajar dari beliau, waktu itu banyak daging beku tapi daging beku tidak bisa dipakai bakso, tapi apa betul dengan beku tidak bisa dipakai bakso?," ujar Dahlan di acara ulang tahun APMISO ke 5 di parkir timur Senayan, Minggu (29/12/2013).
Jika daging beku bisa diolah, Dahlan pun akan meminta kepada Perum Bulog untuk menyuplai daging murah. Hal itu khusus diberikan untuk pedagang bakso.
"Kalau bisa maka bulog bisa memberikan suplai daging untuk pedagang bakso," ungkap Dahlan.

Dahlan mengaku tidak menginginkan bahwa pedagang memilih memperkecil ukuran bakso, dijadikan solusi disaat harga daging sapi dalam negeri tinggi. Menurut Dahlan, solusinya dengan mengelola daging sapi beku.
"Yang terpenting itu apa betul daging beku bisa jadi bakso, Karena kan daging ini kan mahal terus, itu gak boleh," papar Dahlan.

Sumber:

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/12/29/2106412/Daging.Mahal.Ini.Alternatif.Dahlan.untuk.Bahan.Baku.Bakso

Analisis:

Secepatnya pemerintah mencari semua solusi untuk masalah ini . Agar pedagang pun juga tidak usah harus merubah daging menjadi daging yang murah dan cita rasa dari dagangannya tersebut .

Bom bunuh diri di stasiun kereta Rusia, 13 tewas

Sindonews.com – Seorang wanita melakukan aksi bom bunuh diri di sebuah stasiun kereta api di Rusia selatan, Minggu (29/12/2013) siang. Menurut Komite Anti Terorisme Nasional Rusia, aksi teror ini menewaskan 13 orang.

Selain menewaskan 13 orang, ledakan bom juga melukai puluhan orang yang berada di sekitar lokasi ledakan. Ledakan ini terjadi di Volgograd, sebuah kota dekat wilayah Kaukasus Utara, yang kerap dilanda aksi kekerasan.

Seperti dilaporkan Xinhua, wanita pelaku bom bunuh diri itu meledakkan dirinya di depan pintu deteksi logam, di pintu masuk utama stasiun kereta api. Setelah terjadinya ledakan, polisi langsung menutup lokasi kejadian dan menyelidiki peristiwa ini.

"Departemen investigasi dari Komite Investigasi (IC) untuk wilayah Volgograd meluncurkan penyelidikan kasus kriminal dalam kaitannya dengan ledakan, di mana menurut laporan wal tidak kurang dari 13 orang tewas," kata juru bicara IC, Vladimir Markin.

Ini bukan aksi bom bunuh diri pertama di daerah itu. Pada Oktober lalu, seorang wanita juga melakukan serangan bom bunuh diri. Aksi nekad tersebut dilakukan di sebuah bus di Volgograd dan menewaskan tujuh orang, serta melukai puluhan lainnya.

Pelaku kemudian diidentifikasi sebagai istri dari Dmitry Sokolov, seorang pria yang tinggal di pinggiran kota Moskow yang bergabung dengan kelompok pemberontak di Dagestan.

Pada September silam, Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan situasi di Kaukasus Utara tetap menjadi tantangan bagi keamanan negara itu. Dia meminta semua departemen penegakan hukum harus dimobilisasi untuk mempertahankan hukum, ketertiban, dan perdamaian di kawasan itu.

Sumber:

http://international.sindonews.com/read/2013/12/29/41/821765/bom-bunuh-diri-di-stasiun-kereta-rusia-13-tewas

Analisis:

Sebaiknya pemerintah mengusut siapa dari kelapa pembom tersebut, agar tidak ada lagi orang-orang yang menjadi korban .





Nilai emisi obligasi capai Rp58,56 T



Sindonews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total emisi obligasi maupun sukuk yang diterbitkan hingga pekan ini sebanyak 61 emisi dari 47 emiten senilai Rp58,56 triliun.

Dikutip dari situs resmi BEI bahwa total nilai penerbitan obligasi tersebut bertambah dengan dicatatkannya Obligasi Berkelanjutan I Bank Permata Tahap I tahun 2013 dan Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II Bank permata Tahap I tahun 2013.

Obligasi Berkelanjutan I Bank Permata Tahap I tahun 2013 senilai Rp1,368 triliun, terdiri atas dua seri, yakni Seri A senilai Rp696 miliar dengan tenor 370 hari dan Seri B sebesar Rp672 miliar bertenor tiga tahun. Sedangkan Obligasi Subordinasi Berkelanjutan II bank Permata Tahap I tahun 2013 sebesar Rp860 miliar memiliki tenor tujuh bulan.

Sementara PT Verena Multi Finance Tbk (VRNA) akan mencatatkan Obligasi Berkelanjutan I Verena Multi Finance Tahap II tahun 2013 senilai Rp153 miliar.

Obligasi ini terdiri dari dua seri, yakni Seri A senilai Rp113 miliar dengan tenor 36 bulan dan Seri B sebesar Rp40 miliar dengan tenor 48 bulan. Obligasi Berkelanjutan I Verena Multi Finance mendapat peringkat idA dari Pefindo.

Dengan pencatatan ini, maka total emisi obligasi maupun sukuk yang tercatat di BEI sebanyak 247 emisi dari 104 emiten, dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp218,22 triliun dan USD100 juta.

Surat Berharga Negara (SBN) tercatat mencapai 96 seri sebesar Rp995,25 triliun serta lima EBA senilai Rp2,36 triliun. 
Sumber:
 
Analisis:



Dengan pencatatan ini, maka total emisi obligasi maupun sukuk yang tercatat di BEI sebanyak 247 emisi dari 104 emiten, dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp218,22 triliun dan USD100 juta

Rupiah Melemah, IHSG Kembali Tergelincir 47,46 poin


 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahan pada penutupan perdagangan Rabu (4/12/2013) ini, setelah sehari sebelumnya indeks juga ditutup turun.

IHSG ditutup di posisi 4.241,3 atau turun 47,46 poin (-1,1 persen), dengan volume perdagangan mencapai 5,77 miliar lot saham senilai Rp 4,14 triliun. Terdapat 87 saham yang harganya naik, 138 saham turun, dan 110 saham tidak bergerak.

Indeks tak mampu menanjak, meskipun pemodal asing lebih banyak melakukan belanja pada hari ini. Di sisi lain, investor tetap mencermati kemungkinan terjadinya pemangkasan stimulus perekonomian oleh Federal Reserve.

Dari 10 indeks sektoral, tercatat hanya dua yang ditutup positif hari ini, yaitu pertambangan (1,43 persen) dan perkebunan (0,53 persen). Sisanya, delapan indeks sektoral melemah, di antaranya properti (-1,41 persen), aneka industri (-1,53 persen), dan keuangan (-1,66 persen).

Saham-saham yang menjadi top losers adalah HMSP (-2,27 persen), GGRM (-2,16 persen), UNVR (-1,71 persen), JECC (-14,40 persen), ICBP (-2,94 persen), dan INTP (-1,57 persen).

Sementara itu, saham-saham yang menjadi top gainers adalah ITMG (3,07 persen), AALI (1,54 persen), HRUM (4,72 persen), GTBO (23,80 persen), CMNP (4,06 persen), dan MYOH (24,48 persen).

Dari bursa regional, sebagian besar indeks di kawasan Asia Pasifik ditutup melemah pada hari ini karena para investor masih menunggu data-data perekonomian AS serta mengantisipasi kemungkinan pemangkasan stimulus The Fed.

Adapun nilai tukar rupiah pada hari ini kembali melemah. Pada sore ini, nilai tukar berada di level Rp 11.986 per dollar AS, atau turun 98 poin dari kemarin.
 
Sumber :
 
 
Analisis :
 
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  melemah yang diikut rupiah tak kunjung naik juga.
indeks yang tak mampu naik, walaupun pemodal asing lebih banyak membeli pada saat ini. Di pihak lain, investor tetap mencermati terjadinya stimulus perekonomian. Dari 10 indeks sektoral terdapat 2 yang berada pada indeks sektoral positif  yaitu pertambangan dan perkebunan.

Asing Makin Bebas Kuasai Ragam Bisnis


Investor asing bakal makin gampang menguasai ragam bisnis di Indonesia. Kemudahan ini akan tertuang dalam revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 36 Tahun 2010 tentang Badan Usaha Tertutup dan Terbuka dengan Persyaratan atau lebih lebih tenar aturan Daftar Negatif Investasi (DNI).
Berdasarkan hasil pembahasan revisi DNI di Kantor Menko Perekonomian, Selasa (24/12/2013), ada empat sektor usaha yang sebelumnya tertutup sama sekali menjadi terbuka bagi asing.
Pertama, penyediaan dan penyelenggaraan terminal darat. Kedua, pengujian kelayakan kendaraan bermotor atawa KIR. Ketiga, asing boleh memiliki 51 persen saham perusahaan periklanan. Tapi, ketentuan ini hanya berlaku bagi investor asing berasal dari ASEAN. Keempat, asing juga boleh menguasai 49 persen saham pembangkit listrik berkapasitas kurang dari 10 Megawatt.
Ketentuan sebelumnya, asing tak boleh masuk bisnis ini karena hanya diperuntukkan Usaha Kecil Menengah (UKM). Ada juga kelonggaran lain di sektor farmasi dan modal ventura. Di industri farmasi, misalnya, porsi saham asing ditambah dari maksimal 75 persen menjadi maksimal 85 persen. Ada yang dilonggarkan, ada pula yang batasi. Penguasaan asing akan dibatasi, antara lain, pada sektor pertanian hortikultura (buah dan sayuran).
Saat ini, asing bisa menguasai 95persen saham perusahaan pertanian hortikultura. Jika revisi aturan ini berlaku, asing hanya boleh menguasai maksimal 30 persen saham. 

Revisi DNI kali ini juga memasukkan satu sektor usaha baru yang belum masuk DNI, yakni penyelenggara perdagangan alternatif di perdagangan bursa berjangka. Asing akan boleh memiliki 95 persen perusahaan pialang berjangka.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Mahendra Siregar, menjelaskan, pelonggaran aturan investasi ini bertujuan menambah daya tarik investasi di Indonesia. Maklum, tahun depan Indonesia menargetkan investasi masuk Rp 450 triliun, naik 15 persen dibanding tahun ini yang senilai Rp 390,30 triliun. Lagi pula, sektor bisnis yang dibuka bagi asing rata-rata membutuhkan modal besar.
Mahendra mengakui bahwa calon DNI baru belum tentu mendongkrak pertumbuhan investasi Indonesia di tahun 2014. "Namun untuk jangka panjang, DNI ini akan berpengaruh signifikan," tandas Mahendra, Rabu (25/12/2013). Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Suryo Bambang Sulisto, juga memandang positif revisi DNI dan sepakat jika sektor yang dibuka butuh campur tangan pengusaha asing.
"Ini sudah sesuai aspirasi kami, tapi pemerintah harus tegas, bidang usaha yang khusus untuk pengusaha lokal tetap dijaga kemurniannya," kata Suryo.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, berharap, pemerintah tetap melindungi kepentingan pengusaha lokal. Jangan sampai liberalisasi investasi ini akan mematikan pengusaha lokal. (Asep Munazat Zatnika)
Sumber :
 

Analisis :

Saya setuju banyaknya pengusaha asing di Indonesia ditahun yang akan datang. Karna dapat membantu perekonomian indonesia menjadi lebih baik namun pemerintah juga jangan melupakan nasib pengusaha lokal. Kalau bisa penjualan produk lokal yang lebih unggul di negara sendiri bukan dari produk asing.